Rektor Universitas MTU Buka PPKMB: Tekankan Semangat KICAW dan Target 3 Prodi Unggul 2028
Universitas Mahkota Tricom Unggul (MTU) melaksanakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2026/2027 di Kampus Universitas MTU Jalan Perintis Kemerdekaan No. 3A Medan Gedung Grand Jati Junction Lt 24-25 selama tiga hari Kamis-Sabtu 10-12 September 2026.
“Kegiatan ini merupakan tahun ke-5 sejak kampus bertransformasi menjadi Universitas Mahkota Tricom Unggul. Rektor berharap semangat seluruh mahasiswa baru semakin tinggi dalam menyambut perjalanan akademik,” ungkap Rektor Universitas (MTU) Assoc. Prof. Dr. Dompak Pasaribu, SE., M.Si., CPA., CACP, membuka secara resmi Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2026/2027.
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan visi Universitas MTU menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa kewirausahaan, berbudaya SIGAP, serta berdaya saing nasional dan global. Terdapat tiga kunci utama yang ditekankan: berjiwa kewirausahaan, budaya SIGAP, dan berdaya saing.
“Universitas MTU bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan tempat membentuk karakter, menemukan potensi, membangun persahabatan, dan mempersiapkan masa depan,” ujar Rektor.
Pada hari pertama, Rektor mengingatkan budaya SIGAP dan nilai integritas yang berlandaskan kejujuran, ketangguhan menghadapi kesulitan, kemampuan beradaptasi, serta sikap profesional dan kerja keras. Sementara pada hari kedua, Rektor memaparkan makna kewirausahaan secara luas — bukan sekadar mendirikan usaha, melainkan kemampuan melihat dan menciptakan peluang, memahami masalah, menemukan solusi, berani mengambil keputusan, serta menciptakan manfaat bagi masyarakat luas.
Seluruh program studi yang ada — Manajemen, Bisnis Digital, Akuntansi, Hukum Bisnis, Agribisnis, Sistem Informasi, hingga Teknologi Informasi — memiliki kesempatan yang sama untuk melahirkan tenaga profesional, inovator, dan pelaku perubahan. Rektor mengajak mahasiswa baru tidak berhenti sekadar menerima ilmu, melainkan berani berkarya, berkompetisi, dan mencoba memulai usaha sederhana dengan semangat: “Start small, and keep improving.”
Tema PKKMB tahun ini adalah KICAW, yang bermakna: Kreativitas, Inovatif, Cerdas, Adaptif, dan Wirausaha. Rektor berpesan agar mahasiswa tidak takut melakukan kesalahan, sebab kesalahan adalah pelajaran berharga. Dengan semangat KICAW, diharapkan mahasiswa mampu menghadapi tantangan masa depan dan kelak dikenal sebagai pencipta karya, pemenang kompetisi, pemimpin organisasi, wirausahawan muda, dan pribadi yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa MTU yang telah mengharumkan nama kampus di tingkat nasional maupun internasional, baik dalam prestasi akademik maupun olahraga. Lebih jauh, Rektor menetapkan target strategis universitas menjadikan 3 Program Studi Unggul pada tahun 2028. Target ini akan dicapai melalui proses berkelanjutan, yang ditopang oleh prestasi mahasiswa maupun dosen.
“Ambilah setiap kesempatan untuk berkembang, tampil dengan percaya diri, dan nikmati setiap momen. Mari kita bangga dan tumbuh bersama Universitas MTU,” tutup Rektor.
Sedangkan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Mahkota Tricom, Assoc. Prof. Dr. Ir. Martono Anggusti, S.H., M.M., M.Hum, menyampaikan sambutan hangat dan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru Universitas MTU.
Menurutnya, hari ini menandai langkah awal perjalanan menuju kedewasaan, sehingga ia menitipkan tiga pesan sederhana namun mendalam untuk menjadi panduan selama menempuh pendidikan di kampus.
Pertama kenali diri dan tujuanmu. Mahasiswa baru diajak untuk mengenal siapa diri mereka sebenarnya.
“Tanyakan kepada dirimu sendiri: siapa saya? Apa kekuatan saya? Apa yang ingin saya capai? Dan mengapa saya belajar di Perguruan Tinggi?” ujar Dr. Martono.
Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun di kampus, namun saat lulus masih bertanya-tanya: saya sebenarnya ingin menjadi apa.
Kedua bangun kemandirian dan semangat kebersamaan. Kemandirian bukan berarti harus berjalan sendiri. Kita tetap membutuhkan teman, pembimbing, keluarga, dan masyarakat. “Jadilah pribadi yang mandiri dalam berpikir, namun kolaboratif dalam bekerja. Mampu mengambil keputusan sendiri, tetapi tetap mau mendengarkan orang lain. Ingat, kita diberi satu mulut dan dua telinga — artinya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebab masa depan tidak dibangun seorang diri,” tegasnya.
Ketiga Rencanakan Perjalanan Secara Terarah dan Terstruktur. Martono memperkenalkan prinsip SMART — tujuan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terbatas Waktu. Jangan hanya berkata “saya ingin sukses”, tetapi tentukan dengan jelas: sukses seperti apa yang diharapkan? Kapan ingin mencapainya? Apa yang harus dipelajari, dikerjakan, dan mulai dari mana hari ini.
“Impian tanpa tujuan hanyalah harapan. Tujuan tanpa rencana hanyalah keinginan. Dan rencana tanpa tindakan tidak akan menghasilkan perubahan apa pun,” ungkapnya.
Martono mengingatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak akan selalu mudah. Akan ada tantangan, tekanan, kekecewaan, bahkan kegagalan. Namun ia berpesan: jangan takut. Yang berbahaya bukanlah ketika kita jatuh, melainkan ketika kita tidak mau bangkit kembali.
“Kalau salah jadikan pelajaran, kalau terhambat bangkit dan terus melangkah, kalau berhasil tetap rendah hati, jangan sombong. Dan yang terpenting jangan pernah berhenti menjadi manusia pembelajar,” ingatnya.
Kampus bukan sekadar tempat memperoleh ijazah atau sekadar tempat menuntut ilmu. Kampus adalah tempat membangun diri, membentuk karakter, menumbuhkan integritas, kepemimpinan, dan kemampuan berkomunikasi. Sejalan dengan apa yang telah disampaikan Rektor, ia menegaskan masyarakat tidak hanya bertanya seberapa tinggi gelar yang kamu miliki, melainkan apa yang kamu lakukan dengan ilmu yang telah kamu peroleh.
Ketika berinteraksi dengan para pembimbing dan praktisi, jangan hanya bertanya “apa tugas saya?”, melainkan tanyakan “apa yang dapat saya pelajari dari sini?”. Sebab orang yang hari ini menjadi mentormu, suatu hari nanti bisa menjadi orang yang membukakan pintu kesempatan bagi masa depanmu.
Empat atau lima tahun ke depan, kalian akan menjadi bagian dari keluarga besar alumni Universitas MTU. Masa depan memang belum tertulis, namun masa depan sedang kamu bentuk melalui setiap langkah yang kamu ambil mulai detik ini.
“Beranilah, rencanakanlah, kerjakanlah, berjuanglah, tetaplah konsisten, dan peganglah komitmenmu. Kenali lingkunganmu, temukan jati dirimu, dan tunjukkan kemampuanmu dengan penuh semangat,” ungkapnya.
Terakhir, Martono menegaskan: kampus ini adalah tempat untuk menemukan jati diri, membangun karakter, menumbuhkan impian, dan mempersiapkan diri agar dapat berkarya bagi bangsa dan masyarakat. Banggakan dirimu, banggakan orang tua, dan jadilah kebanggaan almamater.
Terakhir Ketua Yayasan Pendidikan Mahkota Tricom, Usli Sarsi, menyampaikan arahan dan pesan mendalam kepada mahasiswa baru Universitas MTU. Dalam sambutannya, Usli menekankan bahwa pembentukan karakter adalah hal yang paling utama di kampus ini — hal yang senantiasa didiskusikan bersama Rektor, pimpinan program studi, dan seluruh jajaran dosen.
“Yang paling penting adalah membangun kebiasaan. Dari kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, akan terbentuk karakter. Karakter tidak bisa lepas dari apa yang kita pelajari dan apa yang kita lakukan sehari-hari,” ujar Usli Sarsi.
Proses pembelajaran di kampus pun harus berbeda — tidak boleh monoton dan rutin saja. Dunia berubah dengan sangat cepat, sehingga sistem pendidikan kita pun harus ikut berubah dan beradaptasi.
Mengutip pandangan bahwa 20 tahun ke depan banyak jenis pekerjaan yang saat ini ada akan berubah atau bahkan hilang, Usli memperingatkan kesempatan kerja di masa depan akan semakin sulit diperoleh jika tidak disiapkan dari sekarang. Ia memantau lulusan yang telah lama menunggu pekerjaan, dan mengamati bahwa banyak yang justru tidak melakukan apa-apa — ada yang hanya bermain gim, ada yang terjerat pergaulan tidak sehat. Oleh karena itu, mahasiswa baru harus memiliki pola pikir yang berbeda.
Di masa lalu, sistem pendidikan cenderung seragam dan terstandar. Kini, pola pikir itu sudah tidak relevan. “Dunia berubah terlalu cepat. Kita hidup di zaman kecerdasan buatan dan robotika. AI saat ini bahkan bisa melampaui pengetahuan yang disampaikan pengajar. Jika dosen hanya berbicara satu arah — sekadar mentransfer ilmu — itu tidak akan lagi berjalan,” tegasnya.
Proses belajar-mengajar harus menjadi jalan dua arah: diskusi dan saling belajar. Dosen pun harus terus belajar setiap saat, begitu juga pimpinan kampus. “Kita semua harus menjadi manusia pembelajar, setiap saat dan dari siapa saja,” tambahnya.
Usli juga mengingatkan agar mahasiswa tidak salah pergaulan, karena hal itu dapat merusak masa depan — dan yang paling berat dampaknya justru bagi keluarga yang telah bersusah payah membiayai pendidikan. Ia juga menyoroti ketangguhan mental generasi saat ini: banyak yang mudah merasa tertekan hanya karena sedikit ditegur, sehingga kehilangan semangat. Mentalitas ini harus diubah.
“Kita harus mampu berpikir di luar kotak — melihat persoalan dari sudut pandang lain,” ujarnya. Ia mencontohkan perkembangan pesat Tiongkok yang mampu melakukan hal-hal di luar logika yang biasa kita kenal. Pemikiran yang inovatif dan tidak konvensional inilah yang ingin ditumbuhkan di kampus.
Usli menyampaikan pengamatannya di hadapan 3.000 peserta pada sebuah forum yang didukung perusahaan negara: “Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah generasi muda yang jujur.” Nilai kejujuran inilah yang secara khusus ingin diwujudkan oleh Universitas Mahkota Tricom Unggul.
Berbeda dengan banyak perguruan tinggi lain yang menerima bantuan besar dari pemerintah, beasiswa dan dukungan di kampus ini utamanya disalurkan melalui Yayasan. Hal ini dilakukan agar kemerdekaan dan kemandirian kampus tetap terjaga.
Usli juga mengumumkan kabar gembira: yayasan mendirikan dan mengakuisisi perusahaan yang akan menjadi wadah penyerapan lulusan. Beberapa mahasiswa baru telah diterima bekerja di perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha tersebut.
“Siap ditempatkan di mana saja, di luar kota sekalipun?” tanyanya, dan mendapat jawaban siap dari para mahasiswa. Harapannya, ke depannya akan semakin banyak perusahaan yang dikembangkan sehingga menyerap lebih banyak lulusan.
Usli mengajak mahasiswa menyadari bahwa Indonesia tidak akan mampu bersaing memproduksi barang elektronik, pakaian, atau barang-barang manufaktur dengan Tiongkok — biaya dan skalanya jauh lebih besar. “Jangan melawan mereka di bidang itu, kita pasti kalah,” tegasnya.
Lantas, di mana letak keunggulan Indonesia? Posisi geografis dan kekayaan alam. Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan iklim yang memungkinkan pertanian dan perkebunan tumbuh subur — sesuatu yang tidak dimiliki negara lain. Sawit, hasil pertanian, dan kekayaan hayati adalah keunggulan yang tidak bisa ditandingi.
Ia kemudian memaparkan inovasi yang sedang dikembangkan memanfaatkan limbah sawit menjadi pupuk kompos pengganti pupuk kimia yang saat ini impornya mencapai 75 persen, serta menghasilkan energi listrik dari limbah dan gas pabrik kelapa sawit. Satu pabrik kelapa sawit saja dapat menghasilkan 10 Megawatt listrik — jumlah yang luar biasa besar jika dikalikan dengan jumlah pabrik yang ada di seluruh Indonesia.
“Inilah keunggulan kita. Cari keunikan dan kekuatan kita sendiri, bukan meniru yang sudah dikuasai orang lain. Inovasi, pemanfaatan alam, dan kerja nyata — di situlah masa depan kita,” tegasnya.
Terpisah Ketua Panitia PKKMB Arwin, BBA., S.Kom., MM disampingi Sekretaris Muhammad Nazarul Yanis, S.P., M.P menjelaskan PKKMB diikuti ratusan mahasiswa baru yang terdiri dari Prodi Manajemen, Bisnis Digital, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Hukum Bisnis dan Akuntasi.
Selama tiga hari PKKMB katanya diisi dengan berbagai kegiatan Mitigasi Bencana K3 dan Simulasi Evakuasi Gedung, Pengenalan Budaya Akadmik Kampus, Sistem Akademik Kampus, Sosialisasi & Talkshow Interaktif Pencagahan Kekerasan Bersama Satgas PPKPT, Seminar tentang AI: From Artificial Intelligence to Better Choices dengan nara sumber Yosin Anggusti, BSc, MTech, Jangan Takut Memulai: Dari Mahasiswa, Menjadi Pribadi yang Punya Nilai dengan Nara Sumber Sucipto, S.Sos., M.M, Wawasan Kebangsaan & Pancasila dengan Nara Sumber Mardi Panjaitan dan berbagai kegiatan lainnya.(*)