Rektor menyampaikan saat ini Universitas MTU memiliki dua fakultas yakni Pertama Fakultas Ilmu Sosial meliputi Progarm Studi Bisnis Digital, Managemen dan Akuntansi. Kedua Fakultas Ilmu Sain dan Teknologi meliputi Program Studi Sistem Informasi (Akreditasa Baik Sekali), Teknologi Informasi dan Agribisnis.
“Kami berharap kolaborasi kita akan bisa sama-sama memberikan manfaat kepada masyarakat di Indonesia,” ungkap Rektor.
Sedangkan Ketua Yayasan Universitas Mahkota Tricom, Usli Sarsi dalam sambutannya menyampaikan sangat senang atas kehadiran Konsulat Republik Rakyat China di Medan Mr. Zhang Yi Che beserta rombongan. Menurutnya ini satu peruntungan, satu kehormatan bagi Universiats MTU.
“Kita bisa mendengarkan penjelasan dari Konsulat Republik Rakyat China di Medan Mr. Zhang Yi Chen bersama Atase Republik Rakyat China, Mr. Xu Meng Qiu mengenai Budaya dan Pendidikan di China. Sekarang ini China sudah berubah menjadi negara yang se-level dengan Amerika. Jadi kita di Asia, harus tahu keadaan ini dan kita juga banyak bisnis-bisnis yang bisa kita kembangkan,” jelas Usli.
Konsulat Republik Rakyat China di Medan Mr. Zhang Yi Chen sebagai pembicara pertama dalam pemaparannya membahas Gambaran Umum Sistem Pendidikan Tiongkok. Dikatakannya saat ini China negara maju dengan sistem pendidikan yang terus berkembang. Tingkat melek huruf melebihi 96 persen dan universitas-universitas top China masuk peringkat dunia. Pendidikan tinggi di China tidak hanya melayani kebutuhan domestik tetapi juga berperan dalam persaingan global. Ini menjadikan pendidikan pilar utama dalam transformasi negara menuju kekuatan ekonomi dan teknologi terkemuka di dunia.
Sistem pendidikan di China merupakan salah satu yang terbesar dan paling terstruktur di dunia. Struktur ini didukung oleh kurikulum yang terus berkembang, ujian nasional yang kompetitif, serta berbagai pilihan jalur akademik dan kejuruan.
China adalah negara yang sangat mementingkan pendidikan tinggi dengan sejumlah universitas yang menduduki peringkat global. Siswa yang ingin masuk universitas harus melalui ujian masuk nasional yang sangat kompetitif. Ujian ini menjadi penentu utama apakah siswa dapat melanjutkan ke universitas yang diinginkan. Di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa bisa memilih berbagai program studi yang mencakup sains, teknologi, seni, hingga ilmu sosial, dengan penekanan pada inovasi dan penelitian.
Sedangkan pembicara kedua Atase Republik Rakyat China, Mr. Xu Meng Qiu dalam pemaparannya membahas Pembangunan Bersama yang Membawa Kemakmuran Bersama menjelaskan “Harmoni antara Langit dan umat manusia” adalah kosmologi inti filsafat Tiongkok kuno, yang menyatakan bahwa manusia dan alam tidak bertentangan tetapi merupakan satu kesatuan organik yang saling bergantung dan tak terpisahkan.
Hal ini menekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam dan harus mengikuti hukum alam untuk mencapai koeksistensi yang harmonis.
Asal usul Ideologis dan Landasan Budaya berakar pada peradaban Tiongkok selama lima ribu tahun, berfungsi sebagai landasan nilai bersama dari berbagai sistem ideologis seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Konsep ini menyediakan kerangka filosofis untuk etika ekologis tradisional dan sangat memengaruhi pandangan dunia alami dan norma perilaku masyarakat Tiongkok.
Taoisme menganggap “Tao mengikuti alam” sebagai prinsip tertinggi, dan percaya bahwa “Tao” adalah asal dan hukum dari semua hal di alam semesta, dan esensinya adalah “non-aksi alami”, yaitu, semua hal harus berkembang secara bebas sesuai dengan sifatnya sendiri, tanpa campur tangan eksternal.
Laozi mengusulkan “manusia mengikuti bumi, bumi mengikuti langit, langit mengikuti Dao, dan Dao mengikuti alam” (Tao Te Ching), menekankan bahwa manusia harus mengikuti hukum alam daripada mencoba mendominasi alam. “Wu Wei” (non-aksi) bukan berarti ketidakaktifan pasif, melainkan mengurangi intervensi berlebihan dalam ekosistem untuk menjaga keseimbangan dinamis alami.
Buddhisme menganjurkan kesetaraan semua makhluk hidup, meyakini bahwa semua bentuk kehidupan, termasuk hewan dan tumbuhan, memiliki sifat Buddha dan hak yang sama untuk hidup. Buddhisme menentang pembangunan eksploitatif yang berpusat pada manusia dan mempromosikan rasa hormat dan perlindungan terhadap semua makhluk hidup.
Buddhisme menjadikan “kasih sayang” sebagai etika inti, menekankan praktik melindungi dan melepaskan kehidupan untuk menumbuhkan kasih sayang terhadap semua hal, dan meyakini bahwa melindungi alam berarti melindungi diri sendiri, yang memperkaya konotasi “peduli terhadap kehidupan” dalam etika ekologi tradisional.(*)