Seminar PKKMB Universitas MTU Kecerdasan Buatan: Dari Teknologi Canggih Menuju Pilihan Lebih Baik

19 September 2026 admin Categories Berita
Yosin Anggusti, BSc, M.Tech menjadi nara sumber pada acara seminar yang membahas AI: Kecerdasan Untuk Pilihan yang Lebih Baik pada pelaksanaan PKKMB Universitas MTU Kamis 7 September 2026.

Kecerdasan buatan atau AI kini semakin mudah diakses masyarakat, membawa perubahan besar dalam pendidikan, pekerjaan, kehidupan sehari-hari, hingga dunia fisik yang terhubung.
“Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apa yang terjadi ketika kecerdasan menjadi lebih murah, lebih cepat, dan disesuaikan secara pribadi” ungkap Yosin Anggusti, BSc, MTech dihadapan ratusan mahasiswa baru pada sesi seminar pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru  (PKKMB) Tahun 2026/2027  melalui zoom, Kamis 17 September 2026.

Dalam seminar tersebut Yosin Anggusti, BSc, MTech, membahas “AI: Kecerdasan untuk Pilihan yang Lebih Baik”, peluang besarnya adalah informasi yang lebih baik akan melahirkan pilihan yang lebih tepat, diikuti tindakan yang terukur dan hasil yang lebih bermakna.

Namun di sisi lain katanya, terdapat risiko berupa kesalahan yang terjadi lebih cepat, penyebaran informasi yang tidak benar, ketergantungan, serta kesenjangan akses.

Dijelaskannya kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan mesin menjalankan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia — mulai dari belajar, bernalar, memahami bahasa dan gambar, hingga membuat prediksi. AI bukan satu teknologi tunggal, melainkan sekelompok metode dan sistem yang terus berkembang dari yang hanya mengikuti aturan tertulis, kini mampu mengenali pola yang dipelajari dan melakukan penalaran yang semakin canggih.
Tujuan utama pengembangannya bukan sekadar menggantikan manusia, melainkan mengotomatiskan pekerjaan berpikir yang berulang, menemukan pola dari data dalam jumlah besar, memprediksi hasil dan mengenali risiko, memperluas kemampuan manusia dalam memecahkan masalah dan berkarya, membuat pengetahuan dan keahlian dapat diakses lebih luas, mempercepat penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saat ini katanya AI hadir dalam berbagai wujud. Pertama Pembuat konten yang menghasilkan teks, gambar, suara dan kode. Kedua Prediktif yang memperkirakan permintaan maupun risiko. Ketiga Penglihatan Komputer yang memahami gambar dan video. Keempat Bahasa yang menerjemahkan dan merangkum. Kelima Sistem Rekomendasi yang menyesuaikan apa yang kita lihat dan menjalankan rangkaian tugas secara mandiri.

ChatGPT misalnya mitra berpikir serbaguna untuk menulis, menganalisis, membuat kode, hingga riset. Claude sangat cocok untuk mengolah dokumen panjang dan pekerjaan pengetahuan. Gemini terintegrasi dengan layanan Google, mampu memproses berbagai jenis data. Perplexity berfokus pada pencarian dan penelusuran informasi lengkap beserta sumbernya. NotebookLM mendalami materi dari dokumen yang diberikan. Copilot tertanam langsung dalam perangkat lunak kerja sehari-hari. DeepSeek dan model terbuka lainnya — memperluas pilihan dan mendorong persaingan harga serta kinerja.

Yosin mengingatkan, jangan bertanya “AI mana yang terbaik?”, melainkan “AI mana yang paling tepat untuk tugas ini?”. Selalu bandingkan hasil dan jangan percaya begitu saja pada satu sumber.
AI dapat berperan sebagai berbagai tenaga ahli yang mendampingi guru yang menjelaskan sesuai kemampuan kita, peneliti yang mengumpulkan bukti, analis yang menemukan pola data, penyunting yang memperbaiki tulisan, perancang yang memberi ide tampilan, pemrogram yang membangun aplikasi, hingga asisten yang menyusun rencana. Namun, manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan, pertimbangan, dan dampak yang terjadi.

Dalam dunia pendidikan, AI memungkinkan pembelajaran yang disesuaikan untuk setiap orang — menjelaskan materi dengan cara yang berbeda, menjawab pertanyaan tanpa batas, dan memberikan umpan balik seketika. Bagi pengajar, AI membantu menyiapkan bahan ajar dan administrasi. Namun AI harus menjadi pendukung, bukan jalan pintas untuk menghindari proses belajar. Keterampilan inti yang makin penting kini adalah bertanya, memeriksa kebenaran, bernalar, berkarya, berkomunikasi, serta menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Pola belajar pun berubah dari “lulus lalu bekerja” menjadi belajar sepanjang hayat. AI mampu menemukan apa yang belum diketahui, menyarankan cara mempelajarinya, menyesuaikan kecepatan dengan kemampuan, serta memudahkan mencoba ide baru tanpa biaya besar. Keunggulan tidak lagi terletak pada menghafal segalanya, melainkan pada kemampuan belajar, memverifikasi, dan menerapkan pengetahuan.

AI kini membantu merencanakan perjalanan, membandingkan produk, menerjemahkan percakapan, merangkum informasi, hingga mengatur jadwal dan kebutuhan rumah tangga. Meski begitu, keputusan penting yang menyangkut nasib tetap memerlukan pertimbangan manusia dan sumber yang dapat dipercaya.
Langkah selanjutnya adalah AI yang hadir di dunia nyata — melalui kamera, mikrofon, kacamata pintar, dan sensor yang memahami lingkungan sekitar. Kemajuan terbesar adalah kecerdasan buatan yang bergerak ke dunia fisik: robot di pabrik, gudang, lahan pertanian, rumah, hingga fasilitas kesehatan. 
Dampak Ekonomi dan Masa Depan Pekerjaan.

AI menurunkan biaya pekerjaan yang membutuhkan pemikiran, sehingga usaha kecil pun bisa memiliki kemampuan yang dulunya hanya dimiliki perusahaan besar. Namun ini juga dapat memperlebar jurang antara mereka yang terampil menggunakan AI dan yang tidak. Kesenjangan baru bukan lagi soal akses informasi, melainkan kemampuan memanfaatkannya.

Dalam dunia kerja, sebagian tugas akan digantikan, namun banyak pekerjaan akan berubah — manusia tetap memegang peran utama dalam memberikan pertimbangan, keahlian khusus, hubungan antarpribadi, kepemimpinan, etika, dan tanggung jawab. Pola yang paling menonjol adalah kerja sama: AI mengerjakan sebagian tugas, sementara manusia mengarahkan, memeriksa, dan bertanggung jawab atas hasilnya.

Karena itu agar menggunakan AI secara bertanggung jawab dan membawa manfaat, ada beberapa hal yang mesti  dipertimbangkan yakni  Tujuan — Apa hasil yang ingin dicapai. Konteks — Apa yang perlu diketahui AI. Bukti — Dari mana datanya berasal. Batasan — Apa yang tidak boleh dilakukan. Keputusan Manusia — Bagian mana yang harus diputuskan oleh orang. Pengukuran — Bagaimana mengetahui ini berhasil. Kerahasiaan dan Keamanan — Informasi apa yang tidak boleh dibagikan.

Masa depan bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan kecerdasan manusia yang diperkuat oleh kecerdasan buatan dan sistem fisik. AI memberikan kecepatan, skala, dan kemampuan mengenali pola; manusia memberikan tujuan, nilai, kepedulian, dan tanggung jawab. Tujuannya bukan otomatisasi sebatas mungkin, melainkan hasil yang lebih baik bagi setiap orang, organisasi, dan masyarakat.

Di akhir seminar Yosin mengajak mahasiswa Universitas MTU merenung “Untuk pertama kalinya, alat kecerdasan tingkat lanjut tersedia secara luas. Ini bukan soal seberapa pintar AI nantinya — melainkan apa yang kita pilih untuk lakukan dengannya.”
Pertanyaannya kini: Jika AI dapat memahami tujuan, kendala, dan kemajuan Anda — apa hal pertama yang ingin Anda perbaiki.

Di tempat terpisah Rektor Universitas MTU, Assoc. Prof. Dr. Dompak Pasaribu, SE., M.Si., CPA., CACP mengatakan kegiatan seminar pada pelaksanaan PKKMB bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa baru di bidang teknologi.

Teknologi AI semakin dibutuhkan di semua sektor termasuk di dunia pendidikan. Dengan semakin berkembangnya teknologi AI mau tidak mau mahasiswa harus memahami apa itu AI sehingga penggunaanya dapat dipertanggung jawabkan.(*)